Home / notes / Mimpi Rimbang Baling

Mimpi Rimbang Baling

Ini tentang mimpi, mimpi yang sederhana. Mimpi yang seperti tergapai, terengkuh menjadi nyata.  Mimpi tentang Bukit Rimbang Bukit Baling khususnya di Kampar Kiri Hulu yang tetap lestari, tetap terjaga dan masyarakat yang hidup dengan adatnya, sejahtera lahir dan batin. Mimpi Rimbang Baling, rumah yang indah bagi masyarakatnya dan bagi margasatwa,  Rimbang Baling tetap bisa mensuplai oksigen buat kita, buat dunia dan untuk  anak cucu sebumi.

Mimpi ini bagaikan “bunga yang sedang hendak mekar, yang tak ingin digugurkan oleh angin yang keras”. Mimpi ini, mimpi sederhana yang tak butuh sorak sorai tapi butuh keyakinan dan kerja kreatif. Mimpi ini tidak butuh Pahlawan karena sebuah mimpi tak dikukuhkan orang-orang hebat seperti pahlawan, melainkan oleh tindakan-tindakan hebat dan kesediaan untuk berkorban bagi mimpi ini.

“Sekali berarti, sudah itu mati” kataChairil Anwar dalam sajaknya Diponegoro. Baris ini yang menjadi inspirasi Mimpi Rimbang Baling. Hanya dengan beberapa belas sajak, Chairil telah mengubah seluruh paradigma puisi Indonesia. Puisinya dicemooh dan dikatakan sebagai “rujak” belaka: segar tapi tanpa gizi. LantasApa salahnya “segar”? Kenapa sesuatu harus dinilai dari segi ada atau tak ada “gizi”? Tidakkah dalam “segar” ada sesuatu yang lebih berarti – yakni hasrat untuk membuat hidup tak hanya dibebani Sabda dan Guna? Tidakkah dunia seharusnya selalu bagai ditemukan buat pertama kalinya, penuh kejutan yang menarik, seperti digambarkan Chairil dalam sajak pendek Malam di Pegunungan:sementara aku berpikir mencari jawab tentang sebab dan akibat, seorang “bocahcilik” menemui hidup dengan “main kejaran dengan bayangan.” [ Heri Budiman]

Check Also

Pacu Sampan

Salam Budaya, Pagi man teman, sehat dan sukses selalu buat kita semua, amin. Ini foto …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *